Dari Beban Mental ke Konsistensi: Pengalaman WaquHaqu Mengenalkan Qur'an Per-Juz

Hari itu, di bulan Agustus 2022, kami kedatangan Salman ke rumah. 

Salah satu agendanya adalah mengajak kakaknya (suami - Lukman) untuk masuk ke dalam daftar Khataman Al-Qur'an Keluarga.

Anggota keluarga lainnya sudah mengambil peran masing-masing—memiliki target bacaan atau hanca—sampai tamat, lalu ditutup dengan doa bersama untuk keluarga besar.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Suami bersedia mengambil satu khataman dan diminta membuka hanca baru yang khusus, terpisah dari hanca pribadi-nya,  dengan harapan dia bisa rutin kembali membaca Al-Qur'an di waktu sore atau malam hari.

Seminggu kemudian, hanca khusus ini dimulai. 

Dia cerita ; ternyata rasanya cukup berat karena harus menggarap dua hanca sekaligus. 

Demi memudahkan aktivitas ini, akhirnya memutuskan fokus pada hanca khusus keluarga, meskipun praktiknya sering kali bolong dan belum bisa rutin.

Di cerita lain, pada awal tahun 2023, kami berkunjung ke kantor PT Cahaya Qur'an. 

Di sana ada Bapak Iwan menawarkan produk cetakan barunya yang bernama Mujazza —sebuah Al-Qur'an edisi per-Juz dengan tampilan sederhana namun sangat menyegarkan secara visual.

Di rumah sebenarnya kami sudah punya Al-Qur'an model per-juz ini, namun suami sangat antusias dan sangat tertarik dengan edisi Mujazza ini?
Akhirnya saya memutuskan, "OK, kami beli satu paket. Akan dicoba langsung oleh Sumai di rumah, nanti laporannya saya kirimkan."

Sesampainya di rumah, hanca khusus keluarga yang awalnya menggunakan mushaf standar segera saya alihkan menggunakan edisi Al-Qur'an per-juz Mujazza ini. Hasilnya sungguh di luar dugaan :

  • Tipis dan Ringan: Satu juz hanya berisi sekitar 8 lembar.

  • Memangkas Beban Mental: Membaca dari ain ke ain terasa jauh lebih ringan. Mushaf ukuran besar yang lengkap 30 juz sering kali memberikan beban psikologis karena terlihat tebal dan berat. Ketika beralih ke format tipis yang ringan dipegang, batin dan perasaan pun ikut merasa ringan.

  • Fokus Tanpa Distraksi: Setiap lembarnya polos tanpa ornamen yang ramai, sehingga mata dipaksa fokus. Ditambah lagi, huruf yang digunakan bertipe Rasm Usmani yang tipis dan jernih, sehingga sangat nyaman di mata.


Setelah berjalan satu minggu, saya mengirimkan pesan laporan perkembangan bacaan kepada Pak Iwan Cahaya Quran. 
Saya katakan kepada mereka bahwa metode ini sangat bagus. Namun agar kesimpulan suami dan saya tidak bias, mushaf ini harus diuji coba ke majelis ibu-ibu lainnya.
Kesempatan itu datang saat kegiatan distribusi Wakaf Qur'an di Sumedang. 
Kang Amir, selaku promotor WaquHaqu Sumedang, mengenalkan kami kepada seorang tokoh yang mahir dalam kajian Al-Qur'an sekaligus sering memimpin program hanca Qur'an bersama ibu-ibu di lingkungan majelisnya.

Respons pribadi beliau sangat antusias saat melihat edisi Mujazza. Setelah langsung mencobanya, beliau berkata :

 "Edisi ini sangat bagus dan cocok untuk yang berusia di atas 40 tahun. Minggu depan akan langsung kami pakai untuk ibu-ibu di majelis ini."  

Saya hanya bisa bergumam dalam hati, Wow... semoga bermanfaat.

Bulan berganti bulan, hingga pada Juli 2024, saat distribusi WaquHaqu bergerak ke Purwakarta.  
Neng Nurhayati, sebagai promotor setempat, mengusulkan agar beberapa Madrasah Diniyyah di zona Wanayasa diberikan paket Al-Qur'an per-juz ini. 
Harapannya, setiap kelompok santri memiliki target hanca mingguan. 
Saya cukup kaget dan bertanya, "Benarkah?" 
Beliau meyakinkan, "Iya, mari kita tawarkan ke ustadz dan ustadzah di sana." 

Jika program ini sukses, saya pikir ini akan menjadi pola gerakan yang sangat menarik.

Catatan Evaluasi dan Asumsi Gerakan di Lapangan

Hingga tulisan ini dibuat, kami masih menunggu kabar terbaru dari perkembangan di lapangan. 

Namun, dari cerita perjalanan ini, ada beberapa kesimpulan dan asumsi baru yang berhasil kami petakan:

  1. Efektif untuk Kelompok Santri Anak: Pemakaian Qur'an per-juz untuk anak-anak sangat ideal dilakukan dalam kelompok minimal 10 anak, khususnya pada momen intensif seperti bulan Ramadan atau acara iktikaf khusus.

  2. Syarat Ketat untuk Anak-Anak: Bagi santri anak, program khataman bersama ini harus dikawal dengan ketat. Syarat utamanya, kemampuan membaca kata dan kalimat Al-Qur'an mereka harus sudah kokoh, serta pemahaman tajwid dasarnya sudah matang agar target bacaan pribadi tercapai dengan benar.

  3. Senjata Utama Majelis Ibu-Ibu: Format Al-Qur'an per-juz terbukti sangat efektif bagi kelompok ibu-ibu yang sejak awal kegiatannya berfokus pada program Hanca Bersama (tadarus keliling/berbagi juz).

  4. Investasi Wajib Madrasah: Para ustadz dan ustadzah tetap meminta agar setiap madrasah memiliki minimal 1 paket edisi Mujazza. Tujuannya agar saat guru membutuhkan media untuk program khusus, paket tersebut sudah siap tersedia di lembaga.

  5. [Asumsi Baru] Solusi untuk Lansia dan Efisiensi Fisik: Secara fisik, mushaf per-juz yang tipis sangat membantu para lansia atau jamaah yang memiliki keterbatasan fisik (seperti radang sendi atau tangan yang mudah lelah) untuk tetap bisa mengaji dalam durasi lama tanpa terkendala beratnya kitab.

  6. [Asumsi Baru] Menumbuhkan Budaya "Saling Menunggu" yang Sehat: Format per-juz dalam satu kelompok secara psikologis menumbuhkan rasa tanggung jawab. Jika ada satu orang yang terlambat menyelesaikan juznya, maka satu paket khataman keluarga atau majelis akan tertunda. Ini menjadi motivasi spiritual yang bagus.


Cerita perjalanan ini bagi saya sangat menarik. Upaya menghidupkan Al-Qur'an di tengah umat dengan berbagai metode memang harus terus diikhtiarkan. 

Mushaf Mujazza milik saya pribadi, bulan kemarin telah saya wariskan kepada putra saya, Wawa. 
Semoga ia berkenan menjaga hanca yang kelak akan menolongnya di akhirat. 
Karena dalam urusan mengaji, hal yang paling berat bukanlah jumlah lembarannya, melainkan konsistensinya—sedikit demi sedikit, yang penting rutin.


Wawa… paksa dirimu untuk konsisten

Kelak, hanca Al-Qur'anmu yang akan berbalik memaksa untuk melindungimu. Aamiin.


No comments:

Post a Comment